Tentang MIPI


Working Together to Feed the Nation

Oleh : L. Hardi Prasetyo

Industri perunggasan di Indonesia telah berkembang dengan pesat dalam upaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau dan mudah diperoleh. Saat ini produksi telur dan daging unggas sudah dapat memenuhi permintaan dalam negeri, dan bahkan sudah dapat mengekspor ke negara tetangga. Hal ini tentunya merupakan prestasi yang dapat dibanggakan sebagai hasil kerjasama yang baik dari berbagai pihak yang berkepentingan, baik dari pihak swasta maupun pemerintah.

 Selama ini berbagai organisasi ikut berperan dalam perkembangan industri perunggasan di Indonesia, baik organisasi profesi, pengusaha, peternak maupun organisasi yang merupakan gabungan dari berbagai kelompok. Masing-masing organisasi memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas dan kepentingannya. Salah satu dari organisasi perunggasan tersebut adalah Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) yang merupakan wadah bagi para anggota World’s Poultry Science Association (WPSA) yang ada di Indonesia, dan juga sering disebut sebagai WPSA cabang Indonesia. Secara internasional, WPSA dengan motonya ‘working together to feed the world’, bertujuan untuk menghimpun pengetahuan tentang ilmu dan industri perunggasan dan membawanya kepada para pelaku dan peminat industri perunggasan di seluruh dunia, serta mendorong terlaksananya praktek dan usaha perunggasan yang baik. Keanggotaan WPSA meliputi akademisi, peneliti, pelaku usaha dan industri perunggasan, serta peminat dan pemerhati industri perunggasan.

Di Indonesia, Masyarakat Ilmu Perungasan Indonesia mempunyai visi untuk menjadi organisasi profesi yang mampu berperan dalam perunggasan dalam negeri. Secara spesifik, misi yang dijalankan adalah (i) menjembatani kebutuhan industri perunggasan dengan lembaga pendidikan dan penelitian, (ii) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia perunggasan, serta (iii) berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah perunggasan nasional. Kenyataan menunjukkan bahwa industri perunggasan nasional mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap produk (bahan pakan dan bibit GP) dan teknologi yang diimpor dari luar negeri khususnya untuk usaha peternakan ayam ras, sehingga hasil-hasil penelitian yang telah dihasilkan di dalam negeri seolah-olah masih belum bisa dimanfaatkan oleh industri. Hal ini tidaklah mengherankan jika dilihat bahwa basis dari industri ayam ras memang berasal dari hasil seleksi genetis dan perkawinan silang yang dilakukan di negara maju dengan iklim subtropis, sehingga semua komponen pendukungnya juga demikian. Namun demikian, pemerintah telah bertekad untuk secara perlahan dan bertahap mengurangi ketergantungan tersebut melalui pemberdayaan sumber daya lokal baik untuk kebutuhan bahan pakan maupun bibit, dalam rangka meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional, serta untuk menghemat cadangan devisa negara.

Dalam hal inilah MIPIdiharapkan dapat berperan secara nyata dalam menjembatani antara kebutuhan pelaku industri dengan lembaga penelitian dan pendidikan, khususnya dalam mengkomunikasikan hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait ke dalam ranah industri perunggasan nasional, dalam mendukung program pemerintah tersebut. Hal tersebut sangat terkait dengan peran dan fungsi dari tiga aspek yang merupakan ruang lingkup kegiatan WPSA/MIPI adalah penelitian, pendidikan dan organisasi.

Berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa tersedia beragam sumberdaya lokal yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam usaha ternak unggas, baik sumberdaya bahan pakan dan pakan maupun sumberdaya genetik. Pemanfaatan unggas lokal dalam industri perunggasan nasional masih sangat rendah, hal ini memang disebabkan karena proses perbaikan genetis terhadap unggas lokal sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan ayam ras yang diimpor dari negara-negara maju, sehingga efisiensi produksinya masih rendah.  Walaupun demikian produk unggas lokal mempunyai segmen pasar tersendiri dan sangat spesifik sehingga komersialisasi pembibitan dan budidayanya perlu lebih ditingkatkan. Begitu juga dengan beragam sumberdaya bahan pakan dan pakan baik dalam bentuk biji-bijian maupun limbah pertanian yang tersedia secara berlimpah, misal bungkil inti sawit, gaplek, tepung bulu ayam, dedak padi, dlsb. Berbagai penelitian telah menghasilkan teknologi agar bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara komersial sebagai bahan pakan yang dapat memenuhi persyaratan. Untuk mengantisipasi perubahan iklim global, pemanfaatan sumberdaya lokal tentunya akan lebih efisien dan menguntungkan dalam jangka panjang karena sumberdaya tersebut tentunya lebih mampu beradaptasi terhadap iklim tropis di Indonesia.

Dalam bidang pendidikan, berbagai perguruan tinggi telah menghasilkan tenaga-tenaga ahli dan tenaga terampil yang diperlukan untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya industri perunggasan nasional.  Namun demikian, sering terdengar bahwa masih terdapat kesenjangan antara tenaga terdidik yang dihasilkan dan kebutuhan industri, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Komunikasi dan interaksi yang lebih intensif dan terarah di antara berbagai pihak terkait sangat diperlukan untuk memperkecil kesenjangan tersebut. Dalam hal inilah MIPI mempunyai peluang untuk memberikan kontribusinya, baik melalui advokasi maupun dalam menyediakan forum-forum dalam bentuk diskusi kelompok maupun forum seminar untuk diseminasi hasil penelitian ataupun memberikan masukan dalam penyusunan kurikulum yang lebih mengadopsi kepentingan industri perunggasan. Dengan demikian diharapkan MIPI dapat mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan dan terlibat dalam perunggasan nasional untuk lebih memberdayakan hasil-hasil dalam negeri.

Sesuai dengan moto WPSA, untuk MIPI mungkin dapat diterjemahkan menjadi ‘working together to feed the nation’.